Kisah Menakjubkan
Ibunda Sang Mujahid Muda
Suatu ketika Abu Qudamah sedang duduk di Masjidil Haram, ada seorang yang menghampirinya seraya berkata,
"Hai, Abu Qudamah, ceritakanlah peristiwa paling menakjubkan yang pernah kamu alami dalam berjihad."
"Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.
"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum kuffar di beberapa pos penjagaandekat perbatasan. Dalam perjalananitu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Irak, dekat dengan sungai Eufrat)"..
Disana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Disamping itu aku mengajak warga kota lewat masjid - masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak fisabilillah.
Menjelang malam harinya, ada seorang yang mengetuk pintu. Tatkala kubuka, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan cadarnya,,
Aku : "Apa yang anda inginkan?"
Wanita : "Andakah yang bernama Abu Qudamah?"
Aku : "Benar"
Wanita : "Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?"
Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudia berpaling sambil menangis.
Pada kertas itu tertulis :
"Anda mengajak kami untuk berjihad, namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir (rambut) kesayanganku agar anda jadikan sebagai tali kekang kuda anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada kuda anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya".
"Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut berjihad, demikian pula kerinduannya untuk mendapat ampunan ALLAH dan surgany-Nya" kata Abu Qudamah.
Keesokan harinya, aku bersama sahabatkau beranjak meninggalkan Raqqah. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba - tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang berteriak...
"Hai Abu Qudamah...hai Abu Qudamah...tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu," teriak orang itu.
Lalu aku berkata kepada sahabat - sahabatku, "Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini".
Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan,
Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak keikutsertaanku".
Lalu aku pun bertanya kepadanya; "Apa yang kau inginkan?".
Ia : "Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang - orang kafir".
Aku : "Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau cukup dewasa adan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad terpaksa engkau aku tolak".
Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih bersinar laksana bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia dan umurnya baru 17 tahun.
Aku : "Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?".
Ia : "Ayahku terbunuh di tangan kaum kuffar dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang yang membunuh ayahku".
Aku : "Bagaimana dengan Ibumu, masih hidupkah dia?".
Ia : "Iya".
Aku : "Kembalilah kepada Ibumu dan rawat ia baik - baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya".
Ia : "Tidakkah engkau mengenal ibuku..?".
Aku : "Tidak".
Ia : "Ibuku adalah pemilik titipan itu,".
Aku : "Titipan yang mana?".
Ia : "Dialah yang menitipkan tali kuda itu".
"Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkan anda dengan wanita yang datang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?"
Aku : "Ya, aku ingat".
Ia : "Dialah ibuku!, dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi,"
"Ibuku berkata, "Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkan jiwamu untuk Allah. Mintalah kedudukan disisi-Nya, dan mintalah agar engaku dikumpulkan bersama ayah dan paman - pamanmu di surga. Jika Allah mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa'at bagiku."
Kemudia ibu memelukku lalu menengadahkan kepala ke langit seraya berkata :
"Ya Allah..ya illahi...inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya".
"Aku benar - benar takjub dengan anak ini, lalu anak itu pun segera menyela, meminta dan memelas...
Ia : "Kumohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insyaallah akulah Asy-syahid putera Asy-syahid. Aku telah hafal Al-Qur'an. Aku juga mahir menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia".
Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.
Kemudian, kamipun singgah di satu tempat dekat pos perbatasan. Saat itu matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, pemuda itu bersumpah atas nama Allah bahwa ialah yang akan menyiapkannya. tentu saja kami melarangnya karena ia baru saja kelelahan selama perjalanan panjang tadi.
Akan tetapi pemuda itu bersikeras menyiapkan hidangan bagi kami. Maka ketika kami beristirahat di suatu tempat, kami katakan kepadanya, "Menjauhlah sedikit agar asap kayu bakarmu tidak mengganggu kami".
Maka pemuda itu mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak. Akan tetapi, pemuda itu tak kunjung tiba. Mereka merasa bahwa ia agak terlambat menyiapkan hidangan mereka.
"Hai Abu Qudamah, temuilah pemuda itu. Ia sudah terlalu lama memasak. Ada apa dengannya?" pinta seseorang kepadaku. Lalu aku bergegas menemuinya, maka kudapatkan pemuda itu telah menyalakan tungku dan memasak sesuatu diatasnya. Tapi, karena terlalu lelah, ia pun tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.
Melihat kondisinya yang seperti itu, sungguh demi Allah aku tak sampai hati mengganggu tidurnya, namun aku juga tak mungkin kembali pada mereka dengan tangan hampa karena sampai sekarang kami belum menyantap apa - apa.
Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Akupun mulai menyiapkan masakannya, dan sesekali aku melirik pemuda itu. Suatu ketika terlihat olehku bahwa pemuda itu tersenyum. Lalu perlahan senyumnya makin lebar dan mulailah ia tertawa lebar kegirangan.
Aku merasa takjub melihat tingkahnya tadi, kemudia ia tersentak dari mimpinya dan terbangun.
Ketika melihatku menyiapkan masakan sendirian, ia nampak gugup dan buru - buru mengatakan,
Ia :"Paman, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan makanan bagi kalian.
Aku :"Ah tidak, kamu tidak terlambat.
Ia :"Biar aku yang menyiapkannya, aku adalah pelayan kalian selama jihad".
Aku :"Tidak". Demi Allah tak kuijinkan kau menyiapkan apa - apa lagi bagi kami sampai kau ceritakan kepadaku apa yang membuatmu tertawa ketika engkau dalam tidur tadi? Keadaanmu sungguh mengherankan", lanjutku.
Ia :"Paman, itu sekedar mimpi yang kulihat sewaktu tidur,"
Aku :"Mimpi apa yang kau lihat?".
Ia :"Sudahlah, tak usah bertanya tentangnya ini masalah pribadi antara aku dengan Allah".
Aku :"Tidak bisa, kumohon atas nama Allah agar kamu menceritakannya".
Ia :"Paman dalam mimpi itu tadi aku melihat seakan - akan aku berada di surga, kudapati surga itu dalam segala keindahannya dan keagungannya, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an. Ketika aku jalan - jalan di dalamnya dengan penuh kekaguman tiba - tiba tampaklah olehku sebuah istana megah yang berkilauan, dindingnya dari emas dan perak, terasnya dari mutiara dan batu permata, dan gerbangnya dari emas. Di teras itu ada kerai - kerai yang terjuntai, lalu perlahan - lahan kerai itu tersingkap dan tampaklah gadis - gadis belia nan cantik jelita, wajah mereka bersinar bak rembulan.
Ku tatap wajah - wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, sungguh kecantikannya yang luar biasa, gumamku. Lalu muncullah seorang gadis lain yang lebih cantik dari mereka, dengan telunjuknya ia memberi isyarat kepada gadis yang berada di sampingnya, seraya mengatakan :
"Inilah (calon) suami Al-Mardhiyah...ya..dialah calon suaminya, benar, dialah orangnya!.
Aku tak paham siap itu Al-Mardhiyah, maka aku bertanya kepadanya, "Kamukah Al-Mardhiyah..??"
"Aku hanyalah satu diantara dayang - dayang Al-Mardhiyah..." katanya.
"Anda ingin bertemu dengan Al-Mardhiyah..?" tanya gadis itu...
"Kemarilah, masuklah kesini, semoga Allah merahmatimu", serunya.
Tiba - tiba diatasnya ada sebuah kamar dari emas merah. Dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki - kakinya terbuat dari perak putih yang berkilauan.
Dan diatasnya, seorang gadis belia dengan wajah bersinar laksana rembulan!!
Kalaulah Allah tidak memantapkan hati dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya.
Tatkala ia menatapku, ia menyambut seraya berkata, "Selamat datang, hai wali Allah dan kekasih-Nya. Aku diciptakan untukmu dan engkau adalah milikku
Mendengar suara merdu itu, aku berusaha mendekatinya dan menyentuhnya, namun sebelum tanganku sampai kepadanya, ia berkata,
"Wahai, kekasihku dan tambatan hatiku, semoga Allah menjauhkanmu dari segala kekejian, urusanmu di dunia masih tersisa sedikit, insyaallah besok kita akan bertemu setelah ashar".
Akupun tersenyum dan senang mendengarnya.
Abu Qudamah melanjutkan, Usai mendengar cerita si pemuda yang indah tadi, aku berkata kepadanya : "Insyaallah mimpimu merupakan pertanda baik".
Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama - sama, kemudian meneruskan perjalan kami menuju pos perbatasan.
Setibanya di pos perbatasan, kami menurunkan semua muatan dan bermalam disana. Keesokan harinya setelah menunaikan sholat fajar, kami bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan Surat Al-Anfaal. Ia mengingatkan akan besarnya pahala fi sabilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.
Abu Qudamah mengisahkan, "Tatkala kuperhatikan orang - orang di sekitarku, kudapatkan masing - masing mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si pemuda, ia tak punya ayah yang memanggilnya atau paman yang mengajaknya dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Akupun terus mengikuti dan memperhatikan gerak - geriknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah aku mendekatinya, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata
Kamis, 23 April 2015
Kisah Menakjubkan Islami
01.45
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar